Dalam dua tahun terakhir, Semarang disibukkan oleh pembangunan mal baru yang menambah pilihan warga untuk menghabiskan waktu luang. Semarang terus tumbuh dengan wajah yang semakin modern. Pusat perbelanjaan, tempat kuliner, dan ruang hiburan kini mudah ditemukan di berbagai sudut kota.
Namun, apakah Dulur tahu, sebelum semua itu hadir, ada tempat-tempat yang lebih dulu menjadi tujuan warga untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama keluarga? Seiring perubahan zaman, sejumlah tempat wisata tersebut tidak benar-benar hilang. Beberapa di antaranya justru beralih fungsi dan kini hadir dengan wajah yang sama sekali berbeda.
Taman Hiburan Rakyat (THR) Tegalwareng
Taman hiburan ini pernah menjadi salah satu tempat wisata yang pernah populer di Kota Semarang. Beroperasi sekitar tahun 1954 hingga 1985, tempat ini menjadi pilihan masyarakat untuk menikmati berbagai hiburan bersama keluarga. Kini THR sudah mengalami beberapa perubahan fungsi. Setelah kebun binatang direlokasi, sebagian kawasan kemudian berkembang menjadi Taman Budaya Raden Saleh. Saat ini TBRS digunakan sebagai ruang kesenian dan kebudayaan, antara lain untuk pertunjukan wayang, teater, pameran, dan kegiatan seni lainnya.
Kebun Binatang Tinjomoyo
Kebun Binatang Tinjomoyo, beroperasi sekitar 1985 hingga 2006. Dulu tempat ini menjadi salah satu favorit warga semarang untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, pada 2007 kebun binatang ini direlokasi ke Mangkang. Kawasan Tinjomoyo kemudian dimanfaatkan sebagai hutan wisata. Saat ini kawasan tersebut lebih banyak digunakan untuk aktivitas alam seperti trekking, kemah, kegiatan komunitas, dan berbagai kegiatan outdoor.
Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS)
Awalnya, bangunan tersebut memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan cukup terkenal di kalangan masyarakat pada periode sekitar 1950 hingga 1993. Pada masa tersebut GRIS terkenal dengan pementasan wayang orang (WO) Ngesti Pandowo. Seiring berkembangnya zaman modern, bangunan tersebut mulai sepi pengunjung. Hingga akhirnya, pada tahun 2008 silam, gedung GRIS dirobohkan lalu berubah jadi Mal Paragon yang sekarang menjadi pusat perbelanjaan modern di Semarang.
Perubahan fungsi sejumlah tempat tersebut menunjukkan bagaimana wajah Semarang terus berkembang mengikuti zaman. Tempat yang dahulu menjadi ruang bermain dan berkumpul masyarakat kini hadir dalam bentuk yang berbeda, menyesuaikan kebutuhan kota dan warganya. Meski wajahnya telah berubah, jejak masa lalu di lokasi-lokasi tersebut tetap menjadi bagian dari cerita perjalanan Semarang.